7 Keajaiban Alam di Geopark Ciletuh

Friday , 30, August 2019 Leave a comment

Bertandang ke Ciletuh, Sukabumi ada sensasi nikmati 7 keindahan alam lewat cara bertepatan. Keragaman geologi, resapi serta budaya ditempat, menakjubkan turis.
Indah. Benar-benar tak dapat dikatakan dengan banyak kata sewaktu lihat air terjun dengan kejadian alam disekelilingnya. Saya memandangnya bak lukisan yg menjelma jadi pandangan mata yg fakta.

Pantaslah ada yg menyebutkan amphiteater, sebab saya lihat keindahan Geopark Ciletuh jadi keajaiban yg fakta dari alam. Alhamdulillah, saya sempat kesana serta nikmati keindahannya, saya tak mengira dapat seindah ini. Berasal sebab minat pada histori, saya tertarik pada umur bumi bersama-sama kontur wilayah itu.

Bersahabat di sosial media dengan beberapa pakar geologi, jadi saya juga mendapatkan pengetahuan terkait Ciletuh. Dikatakan kalau Ciletuh itu geopark dari palung terdalam laut. Area Ciletuh miliki keragaman geologi yg unik serta umurnya paling tua di Jawa Barat.

Area ini adalah dari hasil tumbukan dua lempeng yg tidak serupa, ialah lempeng eurasia (lempeng benua) yg berkomposisi granit (asam), serta lempeng Indo-Australia (lempeng samudera) yg berkomposisi basal (basa), yg membuahkan palung yg dalam, tempat dimana batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), serta batuan beku basa sampai ultra basa terendapkan, sampai benar-benar menarik buat dipelajari.

Pelbagai model batuan yg udah dikatakan di atas bergabung serta terangkat di permukaan disebut jadi batuan bancuh (batuan campur aduk) atau diketahui jadi Melange sebagai barisan batuan paling tua (Pra Tersier) yg terungkap di permukaan daratan Pulau Jawa dengan usia sekitar 65 juta tahun.

Kekhasan yang lain yakni seluruhnya singkapan batuan ada di satu lembah besar mirip amfiteater berwujud tapal kuda yg terbuka menjurus Samudra Hindia yg berlangsung oleh proses tektonik berwujud runtuhan. Terkecuali itu, beberapa air terjun, gua laut serta pulau kecil yg kaya pemaknaan geologi menghiasi area ini.

Wow, kalimat itu itu yg bikin saya tertarik serta langsung ajak kawan jalan buat pergi kesana. Saya mengandaikan basic laut yg tampak ke permukaan, indah serta ajaib.

Jadi, 1 bulan sesudah lihat terkait Ciletuh, kami siap-siap ke arah kesana. Perjalanan pertama saya kesana lebih kurang tahun 2013, sebelum pengesahan Ciletuh jadi Geopark. Ya, buat mengawasi kelestarian alamnya, Ciletuh barusan mengawali satu usaha konservasi terus terusan lewat rancangan Taman Bumi (Geopark). Geopark Ciletuh udah diresmikan jadi Geopark nasional pada tanggal 22 Desember 2015.

Perjalanan ke arah Ciletuh dijalankan dengan mencari dari Pantai Pelabuhan Ratu. Saya bersama-sama 4 kawan yang lain mengemudikan mobil pribadi. Waktu itu memakai dua mobil dengan mencari arah pantai Pelabuhan Ratu.

Kawan saya mengordinasi dalam pendaftaran perjalanan. Perjalanan pertama saya ke Ciletuh lebih kurang tahun 2013.

Waktu itu, jalan belum beraspal seperti saat ini. Perjalanan sebagai kendala sekaligus juga bikin deg-degan, sebab situasi malam sebagai pilihan waktu ke arah ke Ciletuh. Sepi, Kami beristirahat di warung yg telah tutup utk sekedar berbaring meluruskan tubuh.

Jalanan masih berdebu serta banyak lubang. Saat ini, jalanan kesana telah di hotmix atau beraspal bagus.

Kami beristirahat seringkali sebab supir dibutuhkan istirahat. Waktu berasa lama serta Panjang. Buat ke arah kesana, saya sudah sempat seringkali ajukan pertanyaan ke masyarakat sewaktu kami datang di warung. Mendekati janari leutik atau lebih kurang jam 3 pagi, kami tiba di tujuan di dekat Bale Desa.

Seperti baru bubar acara, nyata-nyatanya tadi malam ada pagelaran wayang golek disana serta baru tuntas. Kami langsung dibawa ke homestay yg telah di letakkan oleh tur guide Ciletuh. Kami tinggal dalam rumah masyarakat. Sepanjang di Ciletuh, kami telah beli paket penginapan, makan serta perjalanan Ciletuh.

Buat penginapan, kami tinggal dalam rumah masyarakat. Saya lihat kalau ini adalah teknik paling baik dalam pemerataan ekonomi. Masyarakat mendapatkan kegunaan dari beberapa pengunjung dengan bermalam dalam rumah mereka.

Kami rasakan suka sebab dapat bersatu dengan masyarakat tersebut serta memperoleh pelbagai narasi tentang Ciletuh serta perubahannya dengan mereka. Kami langsung istirahat, sebab esok pagi semestinya ikuti skedul tur, yg telah diawali semenjak jam 7 pagi.

1. Curug Awang

Sesudah sarapan, kami dibawa ke arah ke Curug Awang. Kami dibawa melipir ke belakang rumah yg kami tinggal disana. Mencari pematang sawah yg waktu itu telah panen.

Terlintas kan? Pematang sawahnya telah dipopok atau ditambal lumpur dari sawah. Hebat serta buat mencari akal buat cari pematang yg telah kering. Curug awang ini ada di Sungai Ciletuh, pinggiran administratif di antara Desa Tamanjaya, Desa Cibenda, serta Desa Mekarsakti.

Situs geologi ini adalah air terjun dengan ketinggian 50 mtr. yg terjadi karena susunan geologi berwujud sesar normal sampai ada blok atau sisi yg turun. Curug bermakna air terjun, sesaat Awang bermakna tempat yg tinggi (awang-awang). Menurut rekomendasi, batuan penting penyusunnya adalah sisi dari komposisi jampang anggota Cikarang berwujud batuan sedimen berwujud breksi polimik serta batupasir graywacke berbutir kasar hingga sampai halus, yg menujukkan perlapisan yg tebal.

Batuan berusia miosen bawah – tengah (23-10 juta tahun waktu lalu). Masa itu, kami cuma lihat dari seberang sungai, sebab saluran airnya cukup deras. Kami berpoto ria serta nikmati air yg cukup keruh kecoklatan. Akan tetapi kami bahagia dengan keindahan curug itu.

2. Curug Tengah

Telah senang di Curug Awang, kami dibawa mencari pematang sawah kembali. Dengan memutar sebab pematangnya banyak yg telah mengenai lumpur, kami memutar. Walaupun saya orang kampung, berjalan di pematang sawah yg kecil, cukup buat deg-degan, untungkami memilki guide yg sigap.

Sesudah melalui banyak pematang sawah, pada akhirnya kami hingga sampai di Curug Tengah. Curug ini ada di Sungai Ciletuh, pinggiran administratif di antara Desa Tamanjaya, Desa Cibenda, serta Desa Mekarsakti. Situs geologi ini adalah airterjun dengan ketinggian capai 7 mtr. yg terjadi karena susunan geologi berwujud sesar normal sampai ada blok atau sisi yg turun.

Air terjun ini adalah air terjun terusan dari Curug Awang. Batuan penting penyusunnya adalah sisi dari Komposisi Jampang Anggota Cikarang berwujud batuan sedimen berwujud breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar hingga sampai halus, yg menujukkan perlapisan yg tebal. Batuan Berusia Miosen Bawah – Tengah (23-10 juta tahun waktu lalu). Kami tempatnya ada di atas curug, lihat panorama lebih kurang benar-benar indah.

Subhanallah. Saya merasa di dunia dongeng. Tidaklah heran apabila disebutkan amphiteater apabila lihat keindahan bagaikan lukisan alam dengan beberapa dewa naga terbang yg meliuk-liuk di lebih kurang lembah serta jurang. Di sini saya benar-benar terpesona, ditambah lagi apabila melihat jauh ke depan, terdapat banyak liukan lembah serta ngarai sebagai keajaiban alam semesta.

3. Panenjoan

Perjalanan sesudah itu ke arah Panenjoan.Kami mengemudikan mobil semacam landrover yg disajikan oleh tur guide buat ke arah tiap-tiap titik wisata. Di Panenjoan, kami istirahat sekalian melihat-lihat alam lebih kurang dari pemikiran Panenjoan.

4. Curug Sodong

Tak berapakah lama disana, kami dibawa ke Curug Sodong. Dengan mengemudikan mobil, kami ke arah kesana yg lihat perjalanan seperti arah desa yg telah ramai, tidak serupa dengan awal mulanya yg sepi, cuma bersua dengan bentangan padi. Sewaktu hingga sampai ruang curug, kelihatannya tengah proses pembangunan ruang lebih kurang curug.

Ada 3 curug, pertama, yg teratas serta dua hamper bersisihan sampai disebutkan curug kembar. Curug ini ada di Sungai Cikanteh yg terhitung dalam daerah Desa Ciwaru, situs geologi ini adalah 3 buah airterjun yg tersusun dari terendah ke tertinggi: Curug Sodong/Curug Kembar/Curug Penganten (ketinggian 35 mtr.), Curug Ngelay (ketinggian 7 mtr.), serta Curug Cikaret (ketinggian 50 mtr.).

Air terjun ini terjadi karena susunan geologi berwujud sesar normal sampai ada blok atau sisi yg turun. Batuan penting penyusunnya adalah sisi dari komposisi jampang nggota Cikarang (Sukamto, 1975) berwujud batuan sedimen berwujud breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar hingga sampai halus, yg menujukkan perlapisan yg tebal serta pada basic sungai di temui bongkah-bongkah breksi polimik. Batuan Berusia Miosen Bawah-Tengah (23-10 juta tahun waktu lalu).

5. Curug Cimarinjung

Sesudah dari Curug Sodong, kami kembali berkendaraan. Dzhuhur telah mendekati. Kami menambahkan perjalanan ke Curug Cimarinjung. Curug ini ada di Sungai Cimarinjung yg terhitung dalam daerah Desa Ciwaru, situs geologi ini adalah airterjun dengan ketinggian 50 mtr. yg terjadi karena susunan geologi berwujud sesar normal sampai ada blok atau sisi yg turun.

Batuan penting penyusunnya adalah sisi dari Komposisi Jampang Anggota Cikarang berwujud batuan sedimen berwujud breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar hingga sampai halus, yg menujukkan perlapisan yg tebal serta pada basic sungai di temui bongkah-bongkah lava basal berstruktur bantal yg terjadi 65 juta tahun waktu lalu (Pra-Tersier).

Saya terpukau dengan curugnya. Ingin rasa-rasanya melompati atau main air dibawah curug lalu leyeh-leyeh di pelataran dekat curug, malahan bayangan mah sekalian ngaliwet alias makan liwet. Tetapi waktu itu airnya tengah deras, sebab tengan masuk musim hujan.

6. Pucuk Darma

Pucuk Darma ada di Desa Girimukti dalam area Geopark Ciletuh. Area ini adalah satu diantaranya situs geomorfologi sebagai tempat paling baik buat memonitor bentuk amfiteater dan teluk Ciletuh yg terbuka menjurus laut terlepas.

Perjalanan kesana cukup mencekam sebab naik ke atas Pucuk Darma dengan mengendari mobil land rover. Ketinggiannya cukup terjal, hamper tempat miring, tetapi untungnya yg bawa pula mobil professional. Tapi, sewaktu kita berdebar-debar pada 1/2 perjalanan, kita bersua dengan seseorang ibu bersama-sama anak kenakan seragam sekolah pramuka bawa motor.

Hari itu, hari Sabtu, bila di wilayah Hari Sabtu masih sekolah. Sesudah ajukan pertanyaan ke team guide, nyata-nyatanya di lereng Pucuk Darma ada perkampungan. Kami juga hingga sampai di pucuk. Subhanallah, pemandangannya indah sekali. Ada lengkungan garis pantai serta bentangan panorama lembah yang lain.

Kita bisa lihat pemandangan (landscape) mega amphiteater Ciletuh jadi bukti susunan geologi berwujud sesar normal yg membuahkan suatu longsoran besar berwujud tapal kuda. Batuan penting penyusunnya adalah sisi dari Komposisi Jampang Anggota Cikarang yg terjadi pada saat Miosen Bawah Tengah berwujud batuan sedimen berwujud breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar hingga sampai halus, ditempat ditemui lava.

Bukan itu saja, Pucuk Darma jadi tempat lihat hilal, pemilihan awal bulan hijriyah, terpenting bulan Ramadhan serta Syawal jadi masa-masa penting dalam melaksanakan ibadah buat umat Islam. Ada saung serta sisa bakaran, mungkin awal mulanya ada yg meliwet. Sesudah lakukan perbincangan, kami menyesal sebab tak meliwet.

Udaranya yg sejuk serta redup, sampai kami tak dapat lihat matahari tenggelam dengan jelas. Hilal juga tidak bisa kami lihat, sebab cuaca mendung menggelayut.

7. Pantai Palangpang

Sesudah senang di Pucak Darma, masih dengan deg-degan waktu turun, ditambah lagi saya bila jalan ke bukit itu jago naik, akan tetapi turun seperti nenek-nenek. Pada akhirnya kami alhamdulillah sukses turun.

Kami ke arah Pantai Palangpang, pantai yg terdapat di Desa Mandrajaya, pantai ini adalah satu diantaranya situs geologi berwujud morfologi pantai hasil bentukan laut, berwujud bentangan pasir putih hingga sampai abu-abu jadi hasil lapukan dari batuan yg berada di seputarnya jadi batuan dasarnya juta-an tahun waktu lalu.

Palangpang datang dari kata palang-palang yg bermakna kayu atau bambu di perahu atau antar perahu yg berperan jadi keseimbangan atau tempat duduk atau jembatan) yg sama-sama menumpang. Masalah ini terkait dengan budaya berperahu jadi fasilitas cari ikan maupun transportasi.

Pantai ini miliki bentangan yg luas dengan pasir putih, serta jadi muara buat Sungai Ciletuh pada bagian selatan serta Sungai Cimarinjung pada bagian utaranya. Bentuk pantai ini pun membuat tapal kuda, sebab adalah sisi basic dari lembah mega amfiteater Ciletuh yg terjadi sebab susunan geologi yg berlangsung pada Miosen Atas, di sini kami nikmati situasi sore yg indah serta sejuk.

Waktu itu Palangpang masih juga dalam pembangunan, tentu saja saat ini telah jadi object wisata sisi dari Geopark Ciletuh. Alhamdulillah, dalam satu hari kami mencari serta nikmati 7 keajaiban Geopark Ciletuh. Sebenarnya saya belum senang, sebab terdapat banyak beberapa tempat yang lain di Ciletuh yang bisa ditelusuri, terhitung wisata airnya.

Berkata permasalahan sungai, saya terkenang Dubai, Ibukota Uni Emirat Arab. Sempat membaca dari Google, bila Dubai diambil dari makna Daba, yg berarti bergerak pelan-pelan, membuktikan proses anak sungai Dubai yg mengalir pelan-pelan di wilayah pedalaman. Kota yg berkembang dengan kemampuan sumber daya alam minyaknya, sekarang jadi kota wisata.

Terdapat banyak taman yg dibuat salah satunya taman Al Quran serta taman bunga. Saya juga punya mimpi ada di taman-taman yg indah itu. Sekianlah, keindahan alam semesta tidak dengan batas. Alhamdulillah, saya bisa nikmati Geopark Ciletuh. Saya juga punya mimpi buat pergi ke Dubai, nikmati taman-taman indah disana, terpenting taman Al Quran. Mudah-mudahan Allah menyetujui. Amiiin, Insya Allah.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *