Benteng Pendem Ambarawa yang Indah dan Penuh Misteri

Saturday , 12, October 2019 Leave a comment

Periode kolonialisme di Indonesia tersisa bangunan-bangunan bersejarah yg indah. Antara lainnya Benteng Pendem Ambarawa yg unik, indah serta penuh misteri.

Ambarawa wilayah kecil di Kabupaten Semarang memang menaruh banyak pesona dari periode lampau. Gak cuma miliki Museum Kereta Api yg kondang itu, Ambarawa pula miliki benteng peninggalan jaman kolonial Belanda yg wajar buat kita singgahi seperti Benteng Pendem Ambarawa.

Sebetulnya nama asli dari Benteng Pendem Ambarawa ini yaitu Benteng Fort Willem I. Akan tetapi orang umum sangat sering menyebut dengan Benteng Pendem yg datang dari bahasa Jawa yg bermakna terpendam. Hal tersebut karena bangunannya terdapat terpendam dibawah tanah.

Buat ke arah benteng ini ada sejumlah pilihan, antara lainnya lewat Kampung Bugisan yg terletak gak jauh dari Jalan Jenderal M Sarbini. Untuk yg melesat dari arah Bawen ke arah Yogyakarta melalui bypass pasti menyaksikan benteng ini dari tepi jalan. Memang nampak dekat sama jalan, akan tetapi buat masuk ke arah ke tempatnya mesti melalui jalan kampung yg cukup sempit serta berliku-liku. Karenanya jangan malu buat ajukan pertanyaan dengan masyarakat kurang lebih biar tidak tersesat.

Waktu telah tiba jalan tanah yg bertambah sempit, umumnya ada masyarakat yg menganjurkan buat memakirkan kendaraannya di tempat tinggalnya, sebab tempatnya memang tidak ada tempat parkir yang cukup buat mobil. Dari rumah masyarakat cuman perlu jalan kaki kurang lebih 5 menit buat ke arah ke gerbang belakang benteng. Sesampainya di gerbang, pengunjung bakal digunakan ongkos masuk Rp 5.000 per orang.

Benteng Fort Willem I ini dibuat pada tahun 1834 oleh Belanda. Bentuk bangunannya tidak seperti bangunan benteng umumnya yg ada parit serta tembok berlubang buat meriam. Namun malah miliki banyak jendela serta pintu yg seperti sekali dengan Lawang Sewu di Semarang. Dari keunikannya itu, peluang VOC bikin benteng ini bukanlah buat pertahanan, tapi buat barak serta logistik saat pertarungan.

Pada waktu pendudukan Jepang, benteng ini dipakai buat kamp militer tentara Jepang. Akan tetapi, pada saat ini dialih-fungsi jadi Lapas Kelas II A. Kendati demikian, lokasi ini masih dapat didatangi jadi object wisata akan tetapi cuma segi utara saja.

Tidak lama masuk lokasi ini pasti merasa kondisi mistisnya kendati siang hari, sebab keadaan bangunannya telah tua, banyak dinding yg lapuk serta ditumbuhi semak-semak sampai nampak menyeramkan. Kondisi yg cukup menyeramkan nyata-nyatanya gak bikin beberapa pengunjung takut buat mendalami. Ini dapat dibuktikan, bertambah sore tempat ini bertambah ramai dikunjungi pelancong buat sekadar selfie atau pengambilan foto pre-wedding.

Struktur dinding yg hancur meningkatkan estetika pada photo yg dibuat, seakan-akan tengah ada pada waktu penjajahan. Seperti seperti adegan film Soekarno yg memang lakukan syuting di benteng ini.

Ada satu soal yg unik, waktu saya menyaksikan ke atas, lantai 2 bangunannya nyata-nyatanya dipakai buat hunian. Karenanya beberapa pengunjung dilarang buat naik, sebab di cemaskan bakal mengganggu maupun terjerumus sebab ada sejumlah sisi yg ringkih.

Bicara masalah benteng, di Kota Dubai Uni Emirat Arab pula ada peninggalan benteng kuno yg bernama Al Fahidi Fort. Akan tetapi saat ini benteng itu udah bertransformasi berubah menjadi Dubai Museum yg di dalamnya ada riwayat kota Dubai yg disediakan dengan menarik.

Jadi, menurut saya area ini jadi lokasi perlu kalau traveling ke Dubai, sebab seperti pepatah gak mengenal jadi gak sayang. Waktu bertandang mesti mengenal riwayat tempat yg kita kunjungi biar lebih sayang serta memperoleh banyak pengetahuan. Yah, mudah-mudahan tidak cuman ke Benteng Pendem Ambarawa, saya dapat miliki kesempatan mendatangi Benteng Al Fahidi di Dubai satu nanti.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *