Kolkata, Kota Cantik yang Isinya Bangunan Instagramable

Sunday , 11, August 2019 Leave a comment

Kota Kolkata di India patut buat ditelusuri. Sebab kota ini miliki banyak bangunan bersejarah yg instagramable.

Apabila senang dengan wisata peristiwa, kamu dapat berkunjung ke Kota Kolkata di India. Traveler dapat memandang bangunan eksotis peninggalan peristiwa yg masih terurus secara baik di sini.

Kala saya serta kawan hendak memutuskan buat habiskan 1 hari di Kolkata, India. Saya bertanya-tanya dalam hati, Ada apakah di Kolkata? Akhirnya, di celah pekerjaan yg serampangan, saya cari tahu bab kota ini.

Nyatanya, kolkata miliki banyak bangunan indah peninggalan Inggris serta Kerajaan Mughal. Semangat saya langsung muncul. Ya, saya memang sangat tertarik pada bangunan-bangunan indah yg miliki nilai peristiwa.

Pada era 17, Kolkata merupakan suatu kota penting di masa kerajaan Mughal, suatu kerajaan Islam Farsi yg kuasai daratan India, sampai ke semenanjung Mongol. Shah Jehan, yg bangun Taj Mahal, salah satu rajanya.

Sehabis kerajaan ini roboh, Kolkata ada dibawah kekuasaan Inggris, serta berubah menjadi satu diantaranya pusat perdagangan dibawah Bendera East India Company. Dua percampuran, Mughal serta Inggris, berikut ini yg menguasai bangunan-bangunan di Kolkata.

Saya memang cukup terperanjat dengan kota ini. Tidak seperti yg saya pikirkan, kota ini nyatanya tidak seburuk yg dikabarkan. Sekiranya, itu yg saya alami kala ada kali pertama. Meskipun di tadi malam saya memandang beberapa gelandangan di muka teras toko, ini pagi berasa tidak serupa.

Berjalan-jalan yg saya serta kawan saya lewati lengang, sepi, tidak begitu kotor. Tiada kemacetan serta masyarakat yg berlalu lalang, seperti yg acapkali saya lihat di berita-berita atau saya dengar dari beberapa orang. Trotoarnya lantas lebar, sampai-sampai nyaman ditapaki. Sampah-sampah yg saya kira dapat bertaburan dimana saja lantas tidak tampak.

Kawan saya berasumsi, ini sebab kami ada ditengah-tengah kota. Seperti di Jakarta, Jalan Thamrin-Sudirman tentunya bersih, tuturnya. Saya mengatakan, mungkin saat pagi hari, banyak gelandangan itu telah pergi sampai-sampai jalan tampak bersih serta lengang. Sehabis kembali lagi kota ini pada hari paling akhir, kami baru memahami satu hal, nyatanya ini merupakan hari libur Nasional, patut saja berjalan-jalan berasa sepi.

Arah penting kami merupakan Victoria Hall. Tapi nyatanya bukan Victoria Hall objek pertama yg kami temukan. Tanpa ada menyengaja, kami memandang suatu Katedral putih yg sangat cantik. St Paul Cathedral namanya. Katedral ini dibuat 1837 oleh seseorang pendeta Inggris, Daniel.

Dari jauh, telah tampak jelas kalaupun gereja ini bergaya Gothic Revival, jenis yg tengan populer kala itu di Eropa. Lengkung-lengkung jendela gereja, menara yg tajam, jendela-jendela besar, ada pada sini. Keunikan yang diperlukan di gereja-gereja Eropa seperti Notre Dame.

Pintu gerbang gereja tertutup rapat. Untung ada seseorang penjaga yg memandang kami celingak-celinguk. Dia sebelumnya tidak mengizinkan kami masuk, tapi selanjutnya dia melepaskan kami memphoto sisi luar gereja. Cuma luarnya. Meski sebenarnya, saya sangat mau masuk serta memandang interior gereja ini. Kesempatan ini, negosiasi saya tidak sukses keseluruhan.

Bahagia berpose di gereja putih, perjalanan kami teruskan ke Victoria Memorial, gedung termegah di Kolkata. Ada di muka Victorial Memorial, tidak seperti ada di India.

Bangunan yg dibikin buat menghargai wafatnya Queen Victoria ini sangatlah sangat Eropa, berwarna putih dengan kubah ala Byzantium, memadukan jenis arsitektur Eropa serta Islam India. Ada taman besar serta danau di depannya, sayangnya tidaklah terlalu indah. Kala beberapa orang bersari hilir mudik di taman ini, saya jadi mengandaikan tarian di film India

Sehabis berjalan cukup jauh dibawah sinar matahari Kolkata yg menusuk, selanjutnya kami hingga di Sungai Gangga. Warnanya lebih bening dibandingkan dengan warna sungai Ciliwung di Jakarta. Kami mulai memandang secuil kehidupan asli penduduk Kolkata di sini.

Ada perahu kecil punya nelayan yg bersender, ada perahu besar yg diperlukan entahlah buat apa. Ada juga belasan penduduk mandi, membersihkan, serta menyikat gigi.

Tidak beda memang dengan desa-desa di Indonesia. Perbedaannya, di Indonesia sungai yg biasa diperlukan membersihkan lebih bersih serta jernih, dan tiada yg tidur-tiduran di dekatnya. Nyatanya banyak tunawisma yg diam diri ditepi sungai.

Kala berjalan barusan, kami melalui gang-gang perumahan, sampai-sampai dapat memandang kehidupan orang Kolkata. Tidak serupa dengan ruang umum yg berkesan jorok, ruang perumahan ini bersih serta rapi, tiada sampah.

Bangunannya indah, bercat warna-warni meskipun mengelupas di sana-sini. Kami dapat memandang penduduk India, yg entahlah kenapa tambah banyak laki-lakinya, hanya duduk sekalian terlibat perbincangan atau yg paling umum bermain kriket di muka gang tempat tinggalnya. Tiada yg mengganggu kami, meskipun tidak ada pula yg menegur kami dengan ramah.

Ruang perumahan memang rapi sebab tiada tunawisma disana, sesaat ruang publik berkesan kotor sebab jumlahnya tunawisma yg jadikan tempat itu jadi tempat tinggalnya. Ah, Kolkata memang miliki banyak narasi. Meski sebenarnya saya cuma satu hari saja disana.

Perjalanan eksotis saya ke Kolkata telah dua tahun berlalu. Rasa-rasanya mau kembali ada ke tempat eksotis yang lain di dunia, Dubai antara lainnya. Kecuali miliki tempat wisata kekinian seperti Burj Al Khalifa, Jumairah Beach, Dubai Mountain, Dubai miliki wisata cultural yg masih orisinal. Pada Pinggiran sungai Dubai (Dubai Creek), saya dapat melihat peristiwa serta rumah asli orang di Museum Dubai, menyebrang gunakan perahu rakyat, serta bersihkan mata di Dubai Soak.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *