Menyapa Banggai Cardinal Fish di Pulau Banggai

Wednesday , 28, August 2019 Leave a comment

Berjalan-jalan ke Kabupaten Banggai Laut buat menegur Banggai Cardinal Fish berubah menjadi peristiwa menyenangkan buat traveler. Perjalanan yang habiskan waktu lama, melelahkan tetapi menyenangkan.
Sejauh mata melihat yaitu biru. Laut, langit, bukit dikejauhan perlahan-lahan mulai biru, mencopot warna hijau sebab jaraknya mulai jauh. Daya ingat itu terus menempel. Hari itu, saya dengan kawan sampai di Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amir terlepas siang.

Istirahat sesaat dalam rumah makan serta meneruskan perjalanan ke Pulau Banggai, Kabupaten Banggai Laut dengan kapal cepat. Ya, kapal cepat, tetapi jangan diasumsikan serius cepat. Sebab walaupun disebut demikian, dibutuhkan 2 jam buat sampai pelabuhan seterusnya.

Kabupaten Banggai Laut. Sangat percaya deh, sedikit yang ketahui kabupaten di Sulawesi Tengah ini. Ya, Kabupaten Banggai Laut baru resmi berubah menjadi suatu kabupaten di tahun 2013.

Awalnya, Kabupaten Banggai Laut yaitu lokasi dari Banggai Kepulauan, yang pasti di Pulau Banggai. Tetapi, walaupun masih baru berubah menjadi suatu kabupaten, geliat wisata di lokasi ini cukup diketahui di luar negeri loh! Faktanya kala saya ke arah ke Pulau Banggai itu, banyak bule yang tinggalkan Pulau Banggai. Selanjutnya apa yang dapat dijalankan di Kabupaten Banggai Laut?

Pertama, menyaksikan rumah Suku Bajo. Dari sekolah basic, kita telah tahu beberapa ragam suku di Indonesia. Satu diantaranya yaitu Suku Bajo. Suku yang tinggal di atas laut serta tenar dapat menyelam ke laut berjam-jam tidak dengan alat membantu sekalinya.

Banyak kajian yang telah dijalankan pada kebolehan mereka ini. Dengan Tv serta internet, kita dapat memperoleh infonya dengan simpel. Tetapi, berhubungan dengan mereka berubah menjadi soal yang gak terlewatkan dalam kehidupan. Kabupaten Banggai miliki lokasi-lokasi yang ditempati oleh Suku Bajo. Seperti di Desa Popisi, Kecamatan Banggai Utara atau di Desa Matanga, Kecamatan Banggai Selatan.

Ke dua, menegur endemik ikan hias lokal. Benar, ikan itu dinamakan Banggai Cardinal Fish (BCF). Silahkan googling, ada beberapa info tentang endemic itu. Tentunya, ikan ini disadari oleh dunia internasional jadi satu diantaranya spesies ikan.

Diketemukan di Banggai serta cuma cuma satu. Menarik kan? Saat ini, beritanya ikan itu sudah dapat dibudidayakan, tetapi masih hanya terbatas. Dahulu, orang baru dapat menyaksikan Banggai Cardinal Fish (BCF) di Pulau Banggai serta menegur ikan hias ini jadi faktor pas kenapa kita butuh ke Kabupaten Banggai Laut.

Ke-3, pantai. Well, namanya pulau, pasti dikelilingi pantai. Menyenangkan sekali di tempat ini pantainya bagus-bagus. Pasir putih gak terjamah, air bening, kita dapat menyaksikan dengan jelas ikan-ikan berenang, padang lamun bergerak, bintang laut berwarna-warni. Really nice!

Ke empat, belajar budaya. Dahulu, Indonesia kental dengan kerajaan-kerajaan. Pulau Banggai Laut berubah menjadi tempat lahirnya kerajaan di lokasi Banggai lho! Kita dapat belajar riwayat di tempat ini.

Perjalanan dari Surabaya ke Banggai Laut memang melelahkan. Pikirkan, pesawat pertama dari Lapangan terbang Juanda yaitu jam 5 pagi, serta butuh transit di UPG-Makasar/ Maros buat lantas lanjut ke Luwuk. Sampai di Luwuk telah tengah hari, bila mujur kapal cepat selekasnya pergi lebih kurang jam satu.

Mengapa mujur? Sebab bila laut gak pasti, karena itu kapal cepat tak berjalan. Terdapatnya kapal kayu yang dari Luwuk ke Pulau Banggai yang pergi kira-kira jam 9 malam serta sampai jam 5 pagi.

Tidak sama dengan kapal cepat, kapal cepat akan bawa penumpang ke Pulau Peleng. Dari Pulau Peleng, kita butuh naik kendaraan darat kira-kira 2 jam perjalanan. Kemudian, baru kita naik kapal speedboat.

Gak sampai satu jam, kita sampai di Pelabuhan Rakyat Kabupaten Banggai Laut, diterima oleh senja yang manis. Amat melelahkan, tetapi terbayar dengan keindahan alam serta budaya ditempat.

Well, im fond of blue. Mungkin itu dapat menjadi faktor yang pasti kenapa saya sukai pantai, laut langit. Perjalanan ke Banggai Laut itu gak mungkin saya lupa. Untuk saya perjalanan hari itu dapat menjadi perjalanan paling terkesan di negeri sendiri.

Perjalanan ke Banggai Laut waktu itu disponsori oleh tempat kerja tentunya. Jadi urban planner, berjalan-jalan di celah kerjaan yaitu soal yang gak dapat tidak diterima. Perjalanan ke timur senantiasa berubah menjadi narasi unik yang menarik.

Tidak hanya destinasinya, tetapi juga momen di atas kapalnya. Ngomong-ngomong bab momen naik kapal, dream destination saya sekian lama ini yaitu naik kapal pesiar. Naik kapal 2 jam saja saya girang bukan main, ditambah lagi berjam-jam di atas kapal dengan peralatan yang modern.

Seperti naik kapal pesiar ke Dubai, umpamanya. Well, for your information, Dubai diakhir 2018 lalu menetapkan diri yang memiliki pelabuhan kapal pesiar paling kekinian serta paling besar di Timur Tengah. Gak tanggung-tanggung, luasnya 36.500 mtr. persegi dengan dermaga yang membentang lebih dari 2.200 mtr..

Dengan luas itu, enam kapal sekalian dapat bersangga disana. Dubai saat ini berubah menjadi Cruise Hub of the Region. Gak cuma layanan pelabuhan privat hanya itu, tetapi banyak paket wisata pesiar yang ada. Penyerahan visanya juga simpel sebab terpadu dengan aktivitas di pantai. Disana, saya ingin mengeksplore pulau-pulau bikinannya yang dibikin spektakuler serta sempat berubah menjadi seting suatu film Bollywood. Ya, siapa sich yang tidak ingin ke Dubai?

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *