Nostalgia di Taman Sari, Pemandian Raja-raja Yogyakarta

Monday , 12, August 2019 Leave a comment

Taman Sari berubah menjadi satu diantaranya pertunjukan popular di Yogyakarta. Berubah menjadi pemandian raja-raja di masa dulu, Taman Sari mesti buat disinggahi.

Yogyakarta punyai beberapa tempat bersejarah yang jadikan area lokasi, antara lainnya Kampung Wisata Taman Sari. Tempat ini akan mengantarkanmu memandang tempat pemandian raja pada tahun 1758 M.

Orang bijak sempat menyebutkan, Peristiwa bukan seni bernostalgia, namun peristiwa merupakan ibrah, pelajaran yang dapat kita tarik ke saat saat ini.Buat memersiapkan hari esok yang lebih baik”. Saya sepakat kalau peristiwa mesti membuat kita lebih baik di saat saat ini. Satu diantaranya langkah yang menyadarkan kita akan hal semacam itu, yakni dengan berkunjung ke peninggalan peristiwa di masa dulu.

Taman Sari Yogyakarta berubah menjadi pilihan saya, sebab disana ada sisa kompleks pemandian Raja di Yogya, pada dulu kala yang benar-benar tenar. Taman Sari berubah menjadi favorite di golongan wisatawan lokal ataupun internasional, sebab masuk dalam itinerary Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Perjalanan ke arah Water Castle (Istana Air), julukan dari Taman Sari saya menempuh memanfaatkan sepeda motor dari Kendal. Lumayan jauh, namun ini dia enaknya perjalanan. Membimbing kita akan makna kesabaran. Tidak jauh dari pusat kota, Taman Sari dapat kita dapati dalam tempo 20 menit.

Dengan Rp 5 ribu, kita dapat memandang kemewahan yang dipunyai oleh Keraton Yogyakarta. Dahulunya, Taman Sari ini merupakan danau hasil, dengan bau harum dari bunga-bunga yang berniat di tanam disekelilingnya. Taman Sari dibuat oleh Paduka Sultan Hamengku Buwana 1 pada tahun Ehe 1684 Jawa (1758 M).

Dulu, buat ke arah Taman Sari, Sultan mesti naik perahu atau sejenisnya pada era itu. Akan tetapi saat ini, kita tidak dapat menikmatinya sebab danaunya sudahlah tidak ada, berubah jadi pasar serta rumah masyarakat. Yang tidak terlepas dari peristiwa, dimana abdi dalam keraton yang tinggal di wilayah Taman Sari.

Bangunan dari Taman Sari benar-benar unik serta classic seperti dengan arsitektur Eropa. Keasliannya masih terbangun hingga sampai saat ini, dari era ke-18. Taman Sari jadikan guna jadi, tempat beristirahat, tempat meditasi, tempat persembunyian serta pertahanan di saat itu.

Guna Taman Sari Pada Zaman Dulu merupakan jadi tempat pertahanan serta perlindungan, sebab di Taman Sari ini, mempunyai benteng keliling yang tinggi. Ada baluwer (bastion), buat menaruh persenjataan. Gerbang depannya, ditambahkan penjagaan ketat prajurit serta abdi dalam.

Diluar itu, Taman Sari pula punya jalan bawah tanah atau urung-urung yang dapat menyambungkan sau tempat ke tempat yang lain. Semisalnya Margi Inggil, ke Pulau Kenanga. Pulo Cerita lama ke Sumur Gumuliing. Dari Sumur Gumuling ke Gerbang Segaran bagian barat Taman Sari.

Sisi yang ditujukan jadi tempat meditasi, atau kesibukan religi ini berpusat di Sumur Gumuling serta Pulo Panembung yang ada ditengah-tengah kolam Segaran. Disaat saya masuk ke Sumur Gumiling, benar-benar terpesona dapat benar-benar bagus dengan arsitektur era dulu. Dari simbah guide menyebutkan, dulu sisi tengah Sumur Gumuling, jadikan tempat buat adzan.

Layanan yang ada dalam Taman Sari mencakup pasiraman, umbul, kolam, segaran serta pertamanan. Dulu, segaran ada dari Pulo Kenanga hingga sampai Pulo Gedong disamping Timur Keraton. Air segaran sendiri disalurkan dari Bendungan Bendalole dari Sunga Winaga wilayah Pingit barat laut kota.

Melalui parit yang dimaksud dengan Kali Larangan. Kolam atau umbulnya sendiri ada Umbul Binangun, kolam Garjitawati, Pasiraman Umbulsari serta Kolam Nagaluntak. Disaat memandang dengan cara langsung kolam serta umbul itu, rasa-rasanya ingin terjun saja saja.

Alam bawah sadar selanjutnya mengayalkan putri serta dayang-dayang raja mandi di sini. Begitu ramai serta menyenangkan, dimana Taman Sari banyak dikelilingi danau hasil serta bau harum asli dari bunga yang ditanam dari seputar taman. Wanginya yang menentramkan,serta menyamankan.

Melihat dengan cara langsung tempat bersejarah ini, membuat saya menjunjung begitu peristiwa yang membuat ada kita saat ini. Telah berubah menjadi pekerjaan kita mengontrolnya, menyiarkannya pada semuanya rakyat negeri tumpah darah. Ditambah lagi Taman Sari berubah menjadi Cagar Budaya yang dipunyai Indonesia. Selanjutnya bagaimana dengan negara yang lain? Seperti negara Dubai semisalnya? Yang mempunyai banyak tempat peristiwa, peninggalan zamannya.

Seandainya dapat ke negara Dubai, saya ingin berkunjung ke Museum Dubai. Museum yang terletak ada pada area Benteng Al Fahidi, dibuat dari zaman 1787. Yang mana dikatakan jadi bangunan paling tua, yang ada pada Dubai. Guna dari benteng ini jadi penjagaan serta perlindungan, ke arah pusat kota pada serangan suku-suku tetangga.

Era dulu benteng Al Fahidi sempat jadikan tempat pemerintahan, rumah pemimpin, toko amunisi serta penjara. Saya sangat percaya, kalau pergi ke Museum Dubai saya akan dapatkan pengetahuan masalah langkah hidup tradisionil di Dubai di saat sebelum minyak bumi diketemukan.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *