Petualangan ke Gunung Dempo di Pagaralam

Thursday , 17, October 2019 Leave a comment

Mendaki Gunung Dempo di Pagaralam, Sumatera Selatan merupakan pengalaman traveling yang gemilang. Letih fisik serta mental akan terbayar dengan panorama hebat.

Penulis coba ceritakan pengalaman pertama mendaki gunung dempo yang ada di Pagaralam, Sumatera Selatan. Awal narasi pendakian diawali karena ada berita dari adik sepupu penulis yang ada di Lahat berikan berita jika karang taruna dalam tempat tinggalnya akan membuat pendakian Gunung Dempo yang diagendakan H+4 selesai Lebaran.

Singkat kata pada H+3 Lebaran pas di hari Sabtu, penulis berbarengan 11 orang yang lain terbagi dalam 8 orang laki laki serta 3 orang wanita pergi ke Pagaralam memakai kendaraan bermotor. Selesai perjalanan sampai di daerah Pagaralam, ada 1 wanita yang masuk dengan kami langsung ketujuan ke pasar yang berada di Pagaralam untuk beli bekal ketika pendakian. Selesai dari pasar, penulis serta rombongan langsung ketujuan ke Kampung IV untuk beristirahat menyediakan semuanya untuk pendakian esok pagi.

Sesudah sampai di Kampung IV, penulis dan rombongan bermalam dalam suatu rumah. Ketika ingin beristirahat, hadir 1 orang untuk bermalam berbarengan kami sebab ujarnya ia ditinggal oleh rombongannya. Pada larut malam, kami kehadiran 2 orang untuk mendaki Gunung Dempo esok harinya. Jadi keseluruhan 14 orang yang akan mendaki Gunung Dempo.

Hari yang ditunggu-tunggu lantas datang, sebelum lakukan pendakian, kami lakukan packing kembali beberapa barang yang sudah dikeluarkan ketika istirahat tadi malam. Seterusnya kami sarapan pagi di warung yang disebut warung hanya satu di Kampung IV. Pada waktu 08.00 pagi, kami mengawali pendakian ke Gunung Dempo dengan semangat serta senang sebab kebanyakkan kami pendaki pemula yang ingin mengalahkan Gunung Dempo. Dari Kampung IV ke titik pendakian awal memerlukan waktu kurang lebih lebih kurang 40 menit yang melalui perkebunan teh yang sangatlah sejuk pada pagi hari.

Selesai bahagia berpose di titik pendakian Gunung Dempo lewat Kampung IV, kami meneruskan perjalanan yang rute kenyataannya di mulai dari titik ini. Arah unik rimba yang naik serta banyak akar-akar pohon yang sangatlah menopang dalam perjalanan. Selesai lakukan perjalanan lebih kurang 1 jam, kami lantas sampai di pintu rimba yang disebut batas dengan arah pendakian. Di sini sudah sempat beristirahat tidak lama dengan berfoto-foto tidak lama serta berdoa sebelum mengawali pendakian.

Selesai berpose serta berdoa, kami lantas meneruskan perjalanan yang trek jalannya cukup kuras tenaga sebab naik serta ditambah dikit licin sebab tadi malam wilayah kurang lebih Gunung Dempo diguyur hujan yang cukup deras. Biarpun dikit licin, kami masih tetap bergairah untuk lakukan pendakian ini. Tidak berasa waktu sudah memperlihatkan waktu 11.50 WIB, kami lantas datang di shelter 1 yang disebut tempat istirahat banyak pendaki utk sekedar meluruskan anggota tubuh atau memasak di sini sebab tanahnya datar. Kami lantas akan memutuskan untuk istirahat di shelter 1 sembari memasak mie serta teh hangat serta ada yang ambil air untuk persediaan sepanjang pendakian.

Selesai semua merasakan siap, kami lantas meneruskan perjalanan ketujuan ke shelter 2 yang disebut tempat istirahat yang ke dua buat banyak pendaki. Sepanjang perjalanan dari shelter 1 ke shelter 2 mulai berasa lebih sukar dari awalnya sebab jalannya kian naik. Hal yang tidak dibutuhkan berlangsung pada penulis. Kala ingin melalui Dinding Almari, kaki kiri penulis rasakan keseleo sebab salah sandaran kala ingin melalui Dinding Almari. Disana penulis berhenti tidak lama serta dibantu oleh anggota memijit kaki penulis yang kram itu.

Alhamdulillah ada pendaki lain yang dari Palembang mereka pengin turun serta kebetulan mereka bawa krim untuk menyingkirkan rasa ngilu serta mereka memberikannya seluruhnya terhadap kami. Kurang lebih 10 menit penulis berhenti di Dinding Almari, penulis serta salah satunya anggota barusan meneruskan perjalanan sebab kami berdua sudah ditunggu-tunggu rombongan yang lain di atas. Ketika itu penulis mau merasakan menyerah untuk mendaki namun di perjalanan kami berjumpa rombongan lain yang pengin turun serta ada salah satunya anggotanya miliki kekurangan fisik yang ketika itu dituntun untuk turun. Selesai memandang itu, penulis merasakan abang hanya itu dapat mengapa saya tidak dapat!

Sepanjang perjalanan penulis bergairah kembali untuk lakukan pendakian. Kurang lebih waktu 15.30 sore kami lantas datang di shelter 2 yang cuacanya kian dingin. Di sini kami cuma beristirahat tidak lama sembari bikin teh hangat serta kopi. Kurang lebih 40 menit beristirahat disana, kami sudah sempat berdiskusi kecil mengenai apa terus meneruskan perjalanan ke pelataran Gunung Dempo serta dirikan tenda disana atau berhenti di shelter 2 namun ketetapan akan meneruskan perjalanan yang jalannya kian sukar.

Sepanjang perjalanan banyak berjumpa pendaki lain yang datang dari Palembang, Lahat, Pagaralam serta bahkan juga dari Curup, Bengkulu. Selesai 1 1/2 jam kami lantas sampai di Cadas atau biasa disebutkan Badas oleh masyarakat Pagaralam. Cadas sebagai jalan bebatuan naik serta licin seandainya hujan berlangsung. Tidak berasa waktu maghrib lantas datang kami beristirahat tidak lama sembari cari pendaki lain yang bawa lampu penerangan.

Alhamdulillah berjumpa pendaki lain serta kamipun turut masuk sama mereka. Pada waktu 19.00 malam kami datang di Pucuk Dempo namun tidak berhenti sebab hari kian gelap serta gerimis hujan mulai turun. Selesai 1/2 jam perjalanan dari top dempo, kami datang di pelataran Gunung Dempo yang disebut tempat istirahat yang datar serta sangatlah luas. Salah satunya anggota cari tempat untuk menempatkan tenda serta baru 1 tenda yang dipasang hujan lebat lantas datang hingga menempatkan tenda lain kami lantas kebasahan.

Ketika hujan berlangsung, kami 6 orang dalam 1 tenda kelaparan serta diantara satu dari mereka berinisiatif untuk mengonsumsi mie yang belum digodog yang ada di tas persedian. Kami lantas ambil 4 buah mie serta share dengan 6 orang. Selesai hujan dikit mereka, 2 orang ganti ke tenda lainnya hingga penulis di tenda dengan 3 orang yang lain. Penulis juga mulai rasakan kedinginan pada tangan serta kaki yang sangatlah hebat hingga sukar untuk tidur. Saat jam 1 dini hari, hujan badai lantas datang hingga tenda juga mulai digenangi air hujan serta lainnya terjaga lalu berusaha untuk menyingkirkan kubangan air yang ada di kurang lebih tenda.

Suara burung mulai berkicauan pada pagi hari bangun kami semua serta lalu membagi 2 golongan untuk ketujuan Top Marapi untuk memandang kawah dari Gunung Dempo. Tim 1 yang terbagi dalam penulis serta sebagian orang lakukan pendakian ketujuan ke Top Marapi yang memerlukan waktu normal kurang lebih 30 menit namun penulis serta lainnya kurang lebih 1 jam. Rasa letih, lemas, serta rasa ingin menyerah ketika pendakian itu terbayar seluruhnya akan keindahan alam yang sangatlah gemilang disaksikan dari Top Marapi serta warna kawahnya yang cukup indah biarpun tidak cocok yang dibutuhkan mendapat warna biru atau hijau secara detail tetapi penulis cukup bahagia sebab kawahnya ada warna biru nya yang bergabung warna abu-abu. Penulis sangatlah bahagia serta berteriak dari Top Marapi sebab salah satunya mimpi penulis untuk capai pucuk paling tinggi daerah Sumatera Selatan pada akhirnya terwujud. Kamipun menangkap kejadian indah dengan camera DSLR yang berencana dibawa sebab dikhawatirkan baterei telpon seluler lainnya kehabisan baterei sepanjang perjalanan.

Selesai bahagia menangkap kisah lama, kamipun turun kembali lagi pelataran untuk lakukan persiapan untuk kembali turun ke Kampung IV serta berganti-gantian dengan anggota lainnya. Sesudah sampai di pelataran, anggota lainnya ketujuan ke Top Marapi serta banyak wanita memasak nasi serta lainnya untuk makan siang sebelum turun ke Kampung IV kembali. Sebelum anggota yang lain turun, penulis meluangkan diri berpose tidak lama di pelataran Gunung Dempo.

Selesai anggota lainnya sampai kembali lagi pelataran, beberapa anggota mulai lakukan packing semua alat yang diperlukan untuk kembali di tambahkan ke tas serta beberapa menjemur perlengkapan yang basah ketika hujan tadi malam. Selesai makan serta seluruhnya sudah masuk kembali ke tas, pada waktu 14.00 kamipun meneruskan perjalanan untuk kembali lagi Kampung IV. Kami kembali berhenti tidak lama serta berpose di top Dempo sebelum lakukan perjalanan kembali lagi Kampung IV.

Demikian narasi dari penulis kesempatan ini yang menceritakan pengalaman pendakian Gunung Dempo 3.159 mdpl. Terima kasih sudah luangkan waktu untuk membaca pengalaman pendakian penulis ke Gunung Dempo. Penulis akan memberikannya petunjuk atau saran seandainya ingin lakukan pendakian yang penulis kenali :

1. Sediakan fisik serta mental yang kuat sebab mendaki Gunung Dempo bukan masalah hal yang simpel.
2. Sediakan beberapa alat serta obat-obatan yang cukup hingga meminimalkan perihal yang tidak dibutuhkan berlangsung.
3. Menjaga prilaku serta pengucapan sepanjang pendakian. Seandainya memandang suatu hal yang tidak dibutuhkan, cukup kita yang mengetahui serta dikisahkan kala telah lakukan proses pendakian.
4. Bawa juga kembali sampah jangan tinggalkan sampah apa pun kecuali jejak kaki serta kisah lama.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *