Poso, Negeri 1.000 Megalit Purba

Sunday , 1, September 2019 Leave a comment

Lembah Bada, di Poso, Sulawesi Tengah merupakan Negeri 1.000 Megalit. Kamu dapat menyaksikan banyak artefak kebudayaan megalitikum disana.

Sedikit yg sadari jika Sulawesi Tengah menyimpan pesona wisata dari era megalitikum bernama Lembah Bada. Terdapat di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Lembah Bada dikelilingi dengan gunung yg bikin akses jalan ketujuan tempat ini sangatlah hanya terbatas.

Bahkan juga kalau musim penghujan datang, karena itu longsoran gunung kerap tutup akses jalan. Seperti perjalananku memanfaatkan titik awal Kota Tentena dengan jarak kurang dari 100 km.

Pergi pagi dari Tentena, karena itu kelihatan dengan jelas keindahan Danau Poso di kiri jalan, sebelum bertukar tanjakan telusuri lekukan jalan yg berliku tembus pegunungan. Sesudah 1,5 jam berlalu, kita akan melalui Sungai Malei dengan warna air coklat kemerahan. sesuai sama namanya, Malei yg bermakna merah. Biarpun tak bening, air Sungai Malei langsung bisa diminum.

Gak selama-lamanya perjalanan akan berjalan lancar sesuai sama ide. Kira-kira kurang dari 14 km ketujuan desa paling dekat di Lembah Bada, mendadak kendaraan mesti berhenti.

Jalanan putus, longsoran tanah menutupi akses jalan. Tak ada pilihan arah pilihan kalau telah ada di lokasi ini, kecuali menanti eskavator untuk bersihkan longsoran tanah atau memanfaatkan layanan panggul motor. Perlu kira-kira 6 jam, selanjutnya proses pembersihan jalan tuntas serta dapat dilintasi.

Pas waktu 4 sore, saya lantas datang di Desa Bewa, Lembah Bada dilanjut dengan perjalanan ke Pada Sepe, lokasi dimana Megalitik Palindo ada. Jalanan sempit penuh ilalang serta tak segalanya beraspal, bikin kendaraan berjalan lamban. Tetapi, segalanya terbayarkan waktu menyaksikan Megalit Palindo yg tingginya kira-kira 4 m serta miring ke kiri.ÂÂ

Ukiran batunya telah halus serta berupa muka manusia semacam kelamin pria. Palindo adalah satu diantaranya Megalit paling besar di lembah Bada dari beberapa ribu Megalit yang lain seperti Tarairoe, Tantaduo, Tinoe, Langkebulawa serta terdapat banyak yang lain.

Selanjutnya, my extraordinary traveling ketujuan Negeri 1.000 Megalit ditutup dengan acara mondulu-dulu atau makan sedaun saat malam hari bersama-sama penduduk lokal. Semua makanan dibungkus memanfaatkan daun asli yg punyai bentuk serupa daun pisang.

Tiap-tiap satu paket makanan dari sejumlah penduduk, akan dibikin lingkaran terdiri dalam 4 sampai 6 orang. Kami semua nikmati hidangan serta rutinitas lokal Lembah Bada, lantaran bagiku mengerti rutinitas lokal serta bersatu bersama-sama merupakan nilai makin dari suatu traveling.

Saya lantas mengharap, nantinya satu saat dikasih peluang ke Dubai. Dimana ada pusat perubahan arsitektur yg memadupadankan di antara bangunan pencakar langit serta terus pelihara budaya lokal serta peninggalannya di lokasi Downstream Dubai. Kalau masa itu datang, karena itu saya mau telusuri Dubai serta kemajuan peradabannya dimulai dengan Desert Safari, kunjungan ke Museum Dubai, nikmati matahari tenggelam dari Burj Khalifa sampai Sky Diving berlatar Palm Jumeirah.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *