Sungai Sejernih Kaca di Sumatera Barat

Tuesday , 17, September 2019 Leave a comment

Mungkin belumlah banyak traveler yang ketahui mengenai Hulu Banda. Ini dia sungai di Sumatera Barat yg airnya sejernih kaca.

Gemericik air jatuh terdengar ibarat nada memiliki irama yg mengalun merdu dari terpaan air yg menuruni anak tangga buat anak tangga dari bendung irigasi selama hampir 100 mtr. itu.

Nada hembusan air itu terdengar indah saat ditingkahi oleh bunyi kicau murai yg berterbangan di angkasa. Sinar matahari yg bercahaya cerah pagi itu, memantul di riak-riak air yg memunculkan resiko berkelap-kelip di permukaan telaga kecil yg tenang.

Hulu Banda, demikian penduduk kurang lebih mengatakan. Banda dalam bahasa Minangkabau bermakna sungai, hingga ‘Hulu Banda’ bisa di artikan jadi Hulu Sungai, atau pangkal sungai yg berasal dari balik perbukitan yg membuat sejenis waduk atau telaga kecil di wilayah Taram gak sejauh berapa dari Kota Payakumbuh Sumatera Barat.

Pagi yg cerah itu, nampak serombongan pengunjung yg kelihatan berjalan bersamaan melewati saluran air yg pas mengalir melimpah di atas tubuh bendung yg lumayan panjang itu.

Masihlah dalam keadaan Lebaran, rombongan yg mengatakan jadi karyawan-karyawati Inspektorat Kota Payakumbuh, suatu dinas yg berkantor kurang lebih 10 km jaraknya dari Hulu Banda itu, rupanya mau membuat acara keakraban dalam rencana Halal bil Halal di alam terbuka.

Dalam keriaan bersama-sama, gerombolanbapak-bapak serta ibu-ibu itu nampak membawa serta menenteng beragam perabotan serta perbekalan untuk disantap bersama-sama. Perlahan menjajaki saluran bendung yg airnya teramat  jernih ini, sambil kadang berhenti sesaat ditengah-tengah bendung, rombongan yg didominasi para ibu-ibu ini kelihatan ceria ber-selfie ria sekalian gak lupa membawa dikit ujung busana mereka yg kelihatan tersapu air yg hampir setinggi betis itu.

Iringan-iringan itu pernah hampir macet gak ubahnya keadaan kemacetan arus mudik lebaran saat gerombolan emak-emak itu gak ingin bergerak dari tengah bendung untuk merampungkan keinginan narsis mereka dengan jeprat-jepret beragam tipe.

Para bapak-bapak yg sesungguhnya telah berat memikul beban bawaan itu terpaksa sekali bersabar antre di sisi belakang untuk meneruskan barisan buat menanti emak-emak tuntas mengalirkan ‘bakat’ mereka itu.

Keadaan alam Hulu Banda yg dikelilingi bukit-bukit hijau, berbalut rimba tropis bergabung batu cadas yg masih sebagai gugusan bukit barisan itu, memang seakan gak sudah pernah ada habisnya memanja mata serta memberi kepuasan hati banyak pemburu photo serta penggemar selfie. Telaga kecilnya yg tenang dipakai oleh masyarakat ditempat untuk menyiapkan layanan rakit bambu untuk pengunjung yg tertarik memutari area Hulu Banda.

Airnya begitu jernih serta tenang. Ibarat terlapisi oleh kaca bening, tunjukkan basic telaga yg berwujud bentangan bebatuan berwarna kuning kecoklatan, benar-benar meningkatkan daya eksotis serta magis area wisata alam yang masih perawan ini.

Akan tetapi sayang seribu sayang, keindahan area wisata alam begini bertambah lama keberadaannya bertambah dibiarkan serta tergerus oleh era yg serba instant. Wisata alam setapak buat setapak mulai tergeser serta terabaikan saat object wisata-wisata produksi yg menyuguhkan ‘keindahan artifisial’ ada berceceran bak cendawan tumbuh pada musim hujan.

Ramainya taman-taman produksi yg jual beberapa lokasi yg instagramable untuk berselfie ria lewat cara instant, baik yg mempunyai konsep ala-ala luar negeri seperti taman eropa, taman korea serta yang lain. Atau mungkin yg berbasiskan teknologi serta seni mempunyai konsep studio seperti taman photo 3D, buah karya tangan-tangan kreatif jaman millenial, lebih disukai oleh banyak generasi era saat ini.

Hingga jadilah foto-foto dimuka Menara Eiffel KW, Patung Liberty gadungan atau berpose dimuka kincir angin Belanda abal-abal, oleh sejumlah orang lebih jadi pilihan yg instant dibandingkan keindahan pesona alam seperti danau, lembah serta lautan yg sebenarnya lebih miliki keagungan serta keanggunan yg esensial serta sejati.

Serta seperti hikmah dalam hari lebaran yg kembali lagi fitrah, jadi wisata kembali lagi alam lantas jadi pilihan.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *