Tenggelam Dalam Abad Pertengahan di Skotlandia

Saturday , 31, August 2019 Leave a comment

Skotlandia mempunyai bangunan-bangunan bergaya era pertengahan yg fantastis. Perjalanan kesana, penuh dengan surprise.

Belum hingga 1/2 jam, saya serta suami masuk kamar hotel kami di pusat kota Edinburgh, Skotlandia. Saat itu juga saya masih berkeliling-keliling tempat kagum pada pernak-pernik yg ada pada dalamnya.

Tidak dikarenakan design atau kemewahannya yg membuat saya terkesima. Tetapi sebab fasilitasnya yg ramah untuk penyandang disabilitas.

Dimulai dari pintu yg lebar sampai ringan dimasuki oleh pemakai bangku roda. Lantai kamar berparket serta bukan berkarpet. Sejumlah pojok dikasih tali yg waktu keadaan krisis dapat ditarik sampai alarm bakal keluarkan bunyi.

Pintu kamar mandinya lebar dengan mode geser serta lantai mempunyai tekstur kasar, ada sekian banyak pegangan ditaruh pada dinding bila dibutuhkan. Sungguh-sungguh hotel yg bakal bikin kelompok disabilitas bermalam dengan sangatlah nyaman.

Sampai mendadak, keterpesonaan saya dikejutkan oleh suara kencang alarm dalam tempat. Saya serta suami mulainya menyangka ini cuma alarm kamar sebab kami tidak menyengaja menarik talinya. Tetapi selesai didengarkan baik-baik nyata-nyatanya alarm kebakaran yg keluarkan bunyi di gedung ini. Bergegas kami juga keluar kamar ke arah tangga krisis yg di setiap lorong petunjuknya jelas tertulis.

Awalannya saya kepanikan, tetapi menyaksikan tamu hotel yang lain yg keluar dengan tertata saya juga lebih tenang jadinya. Sesampai di titik kumpul, yaitu di halaman bagian gedung samping kanan baru saya sadar terlupa bakal satu soal.

Ya, saya serta suami lupa memakai pakaian hangat kami coat, syal serta kawan-kawannya ketinggalan di kamar. Walau sebenarnya suhu waktu itu 6 derajat Celcius, cuaca berawan dengan situasi hujan baru-baru ini berlalu. Jadi, dinginnya itu membuat bibir saya berasa kelu.

Saya lihat di kurang lebih, beberapa tamu pun pakai busana seadanya. Maklum, keadaan krisis berikut tidak ada yg mengira awalnya. Tentunya banyak yg tidak memikirkan sampai saya pun menyaksikan wajah-wajah kedinginan. Walaupun, saya sangat percaya turis dari negara dua musim seperti saya tentunya rasakan lebih beku dibandingkan yang lain. Hingga menggigil saya dibuatnya.

Gak lama berlalu, pasukan pemadam kebakaran juga hadir. Sesaat mereka cari sumber kasus, kami disuruh terus ada di luar. Saya hampir tidak kuat dengan dinginnya udara, mendadak pemandu wisata kami hadir jadi dewi penyelamat kondisi krisis ini.

Ia mengharap saya serta rombongan masuk bus wisata yg baru-baru ini datang yang pasti lebih hangat sebab ada pemanas ruangannya. Ia pun mengharap supir bawa kami keliling Kota Edinburgh sambil menanti petugas PMK menuntaskan pekerjaannya.

Cukup, kami juga dibawa memutari kota yg saya injak pertama barusan pagi. Telusuri jalanan bertabur bangunan fantastis yg bergaya era pertengahan.

Melalui Holyroodhouse Palace, tempat tinggal Raja Skotlandia semenjak era 16 yg hingga saat ini masih digunakan jadi tempat resmi kerajaan. Lewat Edinburgh Castle, landmark kota yg berbentuk kastil berdesain benteng ciri khas Eropa yg berdiri di atas sisa gunung berapi.

Melewati Royal Mile, jalanan yg mempertautkan ke dua bangunan barusan yg tetap ramai dengan turis dikarenakan dipenuhi bangunan indah yg menganakemaskan mata, beberapa seniman dengan atraksinya pun restoran serta toko souvenir yg mengajak. Telusuri bermacam tempat yang lain yg gak kalah cantik serta menarik di ibukota sekalian kota paling besar ke dua di Skotlandia.

Putar-putar kota yg gak cuma menghangatkan tubuh tetapi juga menangkal gusar bakal peristiwa alarm kebakaran. Disaat kembali pada hotel serta menjumpai keadaan aman, saya juga bernapas lega. Nyata-nyatanya pemicunya remeh saja, Kayaknya ada tamu yg membuahkan asap di kamarnya. Entahlah itu asap rokok, asap dari rice cooker, atau lainnya. Tidak ada keterangan selanjutnya dari faksi hotel.

Yg penting, kepanikan saya telah pupus, Perjalanan memesona yg diberi bumbu narasi kedinginan karena alarm kebakaran ini bakal saya kenang seumur hidup saya. It’s really my extraordinary traveling!

Saya sangat percaya di Dubai, dream destination saya selanjutnya, momen ini tak akan berlangsung . Saya disana akan tidak kedinginan, dikarenakan dihangatkan cahaya matahari waktu berbaring di atas bentangan pasir putih sambil nikmati panorama birunya Teluk Persia di Jumeirah Beach. Diluar itu, tubuh saya tentunya menghangat terpicu adrenalinnya waktu menjajal sensasi tunggangi kuda atau balapan dengan mobil 4 wheels di selama padang pasir gak berakhir di Desert Safari yg benar-benar menarik panoramanya.

Gak itu saja, hati juga tentunya memanas mengharu biru waktu menyaksikan keindahan design kota Dubai dari ketinggian di pucuk Burj Khalifa. Ditambahkan disaat menelusuri Palm Island dengan bermacam tujuan menariknya, pun disaat singgah Dubai Miracle Garden, wisata edukasi dengan beberapa ratus model bunga yg memesona yg tentunya membuat hati bahagia serta berbunga-bunga. Bermain air ditengah-tengah tandusnya padang pasir di Wild Wadi Water Park yang pasti bakal beri kesegaran tubuh saya ditengah-tengah panasnya cuaca! Ah, Dubai memang kota yang diimpikan untuk melancong. Mudah-mudahan saja mimpi saya bakal kesampaian.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *