Traveling Saat Musim Panas di Turki

Friday , 4, October 2019 Leave a comment

Nikmati musim panas di Turki berubah menjadi satu diantara pengalaman yang perlu dicoba. Berikut pengalaman saya sewaktu bertandang kesana.
Turki sebetulnya tidak masuk dalam top three bucket daftar buat saya singgahi, tapi saya sempat bergumam apabila ada promosi ticket ke turki yg saatnya sesuai sama akan saya mengambil. Serta benar saja, dengan bekal ticket Rp 5,2 juta PP Oman Air dengan rute Jakarta-Muscat-Istanbul-Muscat-Jakarta jadi berangkatlah saya dengan seseorang kawan saya buat 10 hari nikmati libur musim panas di Turki.

Rute perjalanan saya di turki ialah Istanbul-Goreme (Cappadocia)-Konya-Izmir-Istanbul. Tapi pada tulisan pertama kali ini saya akan menceritakan perihal Istanbul, setelah itu akan saya katakan kota-kota lain yg saya singgahi. Minggu pagi jam 5 waktu ditempat kami tiba di lapangan terbang Istanbul baru. Seusai lewat proses imigrasi yg habiskan waktu tidak kurang dari 2 menit saya bisa masuk Kota Istanbul. Hanya butuh memberikan paspor serta visa A1 yg telah saya kemukakan awal mulanya lewat online dengan ongkos $26.

Kami bergegas ke lantai basic buat menggunakan bus Havasit ketujuan Taksim square. Kami beli satu Istanbulkart yg dapat diperlukan berdua seharga TL 20 serta isi TL 100 buat kami pakai jadi pembayaran transportasi publik di Istanbul. Saat tiga pertama kami tinggal dalam sesuatu apartemen yg kami sewa lewat Airbnb di wilayah Beyoglu seharga $21 per malam. Tempatnya benar-benar strategis hanya butuh berjalan kaki buat sampai Taksim square. Pemikiran kami ditambah lagi kalaupun bukan buat mengirit. Bebekal kopi, mie instant, saos sambal, kecap serta sambal trasi olahan mbak di kantor kami bisa mengirit sarapan. Makan siang serta malam baru kami nikmati makanan lokal.

Sebelum pergi kami cari kabar tentang apa yang perlu disinggahi, makanan apa yang perlu dicoba, rute transportasi publiknya dan skedul membuka museum serta pasar. Lantaran kami datang dalam hari Minggu dimana Grand Bazaar tutup, jadi hari pertama kami perlukan dengan berkunjung ke museum di ruang Sultanahmet. Suhu 34 Celcius tidak membatasi kami buat berjalan dari satu tempat ke lain tempat.Di daerah Sultanahmet ada sejumlah maksud wisata yg terletak benar-benar bersisihan. Kami mengunjungu Masjid Sultanahmet atau yg kondang dengan panggilan Blue Mosque karena ornamennya yg serba berwarna biru. Masjid masihlah dalam sesi pemeliharaan semenjak dua tahun yang lalu, satu diantara menaranya bahkan juga ditunjang besi besi, tapi itu tidak bikin surut banyak turis yg hadir dari bermacam luar negeri buat mengunjunginya.

Buat pengunjung wanita yg tidak pakai kerudung atau penutup kepala atau bahkan juga kenakan pakaian pendek, faksi masjid sudah sediakan kain serta selendang berwarna biru buat dipinjam secara gratis. Sebelum masuk masjid kita akan disajikan kantong plastik buat menaruh sepatu, soal ini lantaran masjid ini masih berperan jadi tempat melaksanakan ibadah sampai-sampai pengunjung diwajibkan masuk tidak dengan alas kaki.

Dari masjid sultanahmet kami ketujuan museum Hagia Sofia atau Ayasofia yg terdapat persis bertemu dnegan masjid. Buat masuk ke museum ini kami beli ticket terusan seharga TL 135 yg dapat diperlukan buat masuk Hagia Sofia, Istana Topkapi serta museum arkeologi. Kami mengantre saat lebih kurang 30 menit lantaran ramainya turis yg hadir, soal ini karena masihlah dalam libur musim panas buat beberapa anak sekolah. Museum Hagia Sofia ini dahulunya adalah masjid serta gereja yg dibuat semenjak saat kaisar Constatinus II tahun 306 lalu menjadi masjid seusai Sultan Mehmet menaklukan Konstantinopel. Dalam Hagia Sofia sendiri masih ada lukisan bunda maria serta putranya yg lalu dijepit dengan kaligrafi lafaz Allah serta Muhammad. Tidak cuman ada pula kaligrafi nama nama Khulafurrasyidin (4 teman akrab Nabi) dan cucu Nabi Hasan serta Husain.

Seusai dari Hagia Sofia kami ketujuan Topkapi Palace suatu museum yg menyelimpang benda bersejarah umat islam, salah satunya pedang Nabi Muhammad, pedang banyak 4 khalifah, pedang teman akrab Khalid bin Walid, gamis (baju) Fatimah Zahra putri Nabi serta ada banyak lag yg disimpan di area pribadi bernama Privy chamber. Di area ini pengunjung tidak diperbolehkan buat memfoto atau merekam video.

Hari mulai sore kami berjalan telusuri daerah Eminou buat turut dalam Bhosporus tur. Kami memakai Istanbulkart buat membayar tur ini. Seusai usai tur, kami habiskan sore di dermaga serta nikmati Balik Ekmek yakni sandwich yg di isi dengan ikan fresh tomat serta selada seharga TL 15 rasa-rasanya sangatlah nikmat ditambah panorama abang abang brewokan berhidung macung waktu lalu lalang.

Hari ke-2 kami perlukan dengan telusuri pasar tradisonal yg benar-benar kondang yakni Grand Bazaar, di grand bazaar kita dapat mendapatkan bermacam oleh oleh ciri khas Turki seperti cenderamata, makanan serta baju. Tapi menurut kami harga terhitung mahal. Kami telusuri lorong-lorong yg tembus ke spice bazaar (Egypt Bazaar) di sini harga relatif tambah murah dibandingkan Grand bazaar buat bumbu-bumbu, teh serta manisan ciri khas turki. Seusai suka mengeksplor pasar kami nikmati turkish delight yg benar-benar kondang di restoran Hafiz Mustafa. Kami membeli Baklava, Kunafe, Sutlac (rice pudding) serta pastinya turkish coffee serta tea. Rasa santapan yg benar-benar manis memang serasi disiapkan dengan teh Turki yg pahit. Seusai kenyang kami berjalan ketujuan Galata Tower lalu dilanjut ke Istiklal Street, suatu jalan selama 3 km yg dipenuhi pertokoan kekinian pun restauran di kanan serta kirinya, satu yg ciri khas dari Istiklal Street ialah tram berwarna merah yg masih beroprasi ditengah-tengah padatnya jalanan. Gak berasa kami berjalan sampai sore hari itu. Malam harinya kami perlukan di wilayah Besiktas buat nikmati seafood yg kondang Derya Balik.

Hari ke-tiga di Istanbul sebelum kami terbang ke Kayseri, kami pakai buat berkunjung ke Istana Dolmabahce. Dengan ticket seharga TL 90 kita dapat lihat istana peninggalan saat kejaayan sultan-sultan dari Kekaisaran Turki Usmani. Ada sejumlah bangunan di komplek istana salah satunya bangunan Hareem yakni tempat tingal istri-istri sultan serta bangunan pokok (rumah serta kerja) Sultan. Tiap detail rancangan bangunannya membuat saya terpesona tapi sayang kita tidak diperbolehkan memfoto atau merekam gambar dalam istana. Setelah nikmati keagungan istana kami mampir ketujuan Stadum Besiktas, tempat team sepakbola Besiktas sebelum ketujuan ke Lapangan terbang Sabiha Gokcen yg terdapat disamping Istanbul sisi Asia.

Istanbul ialah peninggalan riwayat penuh dengan cerita lama serta keagungan kisah lampau. Saya mengandaikan dapat nikmati keagungan dewasa ini di kota kekinian Dubai. Kota yg kondang dengan keagungan arsitekturnya. Gedung gedung pencakar langitnya, taman bunga yg luas, Palm jumeirah yg elegan. Ingin sekali dapat habiskan satidaknya 1 kali dalam kehidupan buat nikmati keagungan Dubai dari Burj Khalifa. Cukup nikmati dari jendela lantai tertingginya tak perlu bergelantungan memakai sarung tangan seperti agent Ethan Hunt di Mission impossible. Saya tetap berkeyakinan kalau apa yg sempat terlontar dalam pikran hati serta aksi akan ada jalan buat direalisasikan, Seperti perjalanan saya ke Turki, jadi setelah itu mimpi saya ialah Dubai.

Please give us your valuable comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *